Home > Artikel lainnya > Mengobati Saraf Terjepit Tanpa Operasi

Mengobati Saraf Terjepit Tanpa Operasi

Mengobati Saraf Terjepit Tanpa Operasi

Keluhan nyeri akibat syaraf terjepit tak harus diatasi dengan operasi. Penderitaan itu bisa dihilangkan melalui pemijatan plus doa.Cukup lama Rastiani merasakan sakit luar biasa pada bagian punggungnya. Dua pekan yang lalu setelah melakukan fisioterapi di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, ia divonis harus menjalani operasi agar terlepas dari ancaman kelumpuhan. Dokter menyebutkan nyeri yang dideritanya disebabkan saraf terjepit. nyeri yang dialami rupanya dipicu peristiwa nahas, jatuh dari tangga rumah.

Tak urung, ia merasa ketar-ketir dengan saran dokter tersebut. Apalagi perempuan yang berusia 45 tahun ini pernah mendengar kisah kurang sukses operasi saraf terjepit. Teman-temannya mengisahkan susunan saraf yang rumit dan banyaknya lapisan otot dibagian punggung menyebabkan dokter mengalami kesulitan dalam melakukan operasi.” Karena kasat mata serta halus dan tipis, mereka bilang hanya 50 persen bisa sembuh. Saya takut dan mencari pengobatan alternatif lain,” tutur karyawati disebuah biro iklan ini.

Untunglah ketakutan Rastiani segera luruh karena seorang teman menyarankan agar mengikuti terapi stimulasi saraf dan otot ke klinik Pro V. “Hasilnya cukup bagus.Sudah tiga kali saya berobat kesana. Banyak kemajuan pesat. Saraf di punggung saya terasa lebih baik dan yang penting tidak perlu operasi karena saraf-saraf terjepitnya bisa diatasi melalui teknik pengobatan Harjanto,”Ujarnya

Lain lagi dengan Karyadi, pegawai perusahaan pabrik pipa diCakung, Jakarta. Ceritanya senin kemarin ia kaget bukan kepalang ketika dokter mengatakan ia mengalami penjepitan saraf dipunggung akibat mudik Lebaran kemarin. Pria asal Magetan, Jawa Timur, ini mengaku merayakan mudik Lebaran dengan memboyong keluarga dan barang bawaan kekampung dengan jumlah besar. Akibatnya tanpa disadari saraf bagian punggung terjepit karena beban yang dibawanya,”Pulang mudik sabtu lalu punggung terasa nyeri dan sakit minta ampun. Rasanya seperti menahan banyak beban berat dan mengiris-iris saraf, ” katanya.

Menurut dokter, ia mengalami nyeri punggung yang luar biasa atau sarf terjepit. ” Bila bagian punggung kanan sudah menengok ke kanan, ia tak bisa berbalik menengok kebagian kiri,” kata Karyadi menggambarkan penderitaannya. Keterangan dokter jelas membuat Karyadi getir, maklum sebagai pegawai berpenghasilan tidak terlalu besar, sakit dideritanya membuat ciut hati. ” ya, meski ada biaya penggantian dari kantor tetap saja berat karena biaya operasi penyakit saya sampai puluhan juta. Rumitnya lagi bila sakit saya tidak dioperasi katanya bisa lumpuh. kalau saya lumpuh bagaimana masa depan keluarga saya,”katanya dengan nada memelas.

seperti halnya Ristiani, nasib baik berpihak pada karyadi. Dari seorang teman kantornya, ia disarankan mengikuti terapi saraf milik haji sucipta di daerah klender. Tanpa buang-buang waktu lagi ia berobat kesana, hasilnya baru dua kali selasa dan kamis lalu ia berobat ke pak haji itu, ia merasakn punggungnya mulai membaik.

Kejadian yang menimpa Rastiani dan Karyadi bukan isapan jempol belaka. Meningginya keluhan pasien saraf terjepit diakui dokter Taim Abidin, ahli saraf dari Rumah Sakit Thamrin, Jakarta. Dokter ini mengingatkan sebaiknya pasien berhati-hati bila menerima diagnosis atau hasil dari dokter yang menvonis sakit saraf terjepit. Karena sangat mungkin saja seseorang yang didiagnosis dokter atau ditunjukan hasil rontgen terkena saraf terjepit, padahal sebenarnya tidak seperti itu,” ungkapnya.

Jika ahli bedah salah diagnosis, saran operasi atau tindakan pembedahan tidak akan mengobati rasa nyeri yang diderita pasien, boleh jadi malah akan membuat rasa nyeri bertambah hebat.Taim menyarankan si pasien tidak bertumpu pada hasil foto atau rontgen semata, supaya tidak salah tindakan. Menurut dia, dari penelitian sebanyak 100 persenkasus saraf terjepit yang dioperasi, 65 persen berhasil dan 35 persen gagal. Jumlah kegagalan ini tergolong besar, menurut Taim, dan hal itu bisa mengakibatkan si pasien cacat.

Tak heran dengan akibat fatal seperti itu, terapi tanpa operasi ini banyak dipilih untuk pengobatannyeri ini, seperti terapi Stimulasi saraf otot ala Harjanto di klinik Pro V. Ia melakukan diagnosis dengan cara menyalurkan hawa murni seperti Chi atau Prana kepada pasein.

Harjanto, mengaku terapi yang dilakukan tidak hanya ampuh untuk menyelamatkan pasien saraf terjepit dari ancaman operasi, tapi juga bisa mengobati pasien penderita penyakit saraf dan otot yang lain seperti migrain vertigo dan gangguan di daerah mata dan susah tidur.

Dalam terapi tersebut , Harjanto mengkombinasikan pengurutan dan penyaluran tenaga murni. ” Saya memaki terapi stimulasi saraf otot karena ingin lebih memfokuskan penyembuhan orang bermasalah saraf maupun ototnya,” katanya.

Uniknya, tidak semua pasien datang dengan keluhan, ada juga yang muncul tanpa merasa ada rasa sakit. ” Saat pasien datang, saya langsung mendiagnosis melalui penyaluran hawa murni untuk melihat berapa parah keadaan pasien, ” Kata Harjanto. Setelah itu, ia terapi fisik, ia melanjutkan dengan pijat refleksi atau teknik urut memaki alat bantu terbuat dari tanduk kerbau dalam berbagai bentuk. Masing-masing alat punya bentuk tersendiri untuk memijat bagian mata, kaki, tangan, anggota tubuh dan sebagainya.

Ada juga alat pijat besi, yang biasanya memudahkan ia mengambil urat saraf paling dalam. ” Besar kecilnya alat tergantung pada penyakit yang dialami dan bagian anggota tubuh pasien,” ujar pria yang memadukan teknik kungfu tatkala menyalurkan hawa murni.

Ia bercerita ketika menangani pasien yang mengalami urat terjepit di bagian lutut, langkah awalnya mendeteksi tubuh pasien menyalurkan aura. Dirinya bisa merasakan sakit juga bila menemukan sumber penyakit. Biasanya pria berusia 50 tahun ini menanyakan langsung bagian yang sakit. Bila pendeteksian selesai, ia memperbaiki aura tubuh pasien dari hawa murni tenaga Chi atau prana. Setelah itu ia kembali mendeteksi. Bila ia merasa pasien sudah normal atau stabil, pengobatan dihentikan. Namun, diakui cara itu baru untuk bagian dalam, sedangkan secara fisik tubuh belum tuntas. Untuk memperbaiki fisiknya ia melakukan stimulasi saraf dan otot.

Bila harus menggunakan titik akupuntur, ia melakukan pengurutan dengan pola itu sekaligus memberi hawa murni. Terapinya menggunakan alat untuk merapikan saraf atau otot yang mengalami kesalahan. Tangan kanannya sambil memegang alat menggaruk tubuh pasien, sedangkan tangan kirinya ikut mengusap ke arah bawah dan atas. ” Saya melakukuan terus hingga otot maupun saraf pasien kembali normal. Waktu rata-rata menstimulasi pasien sekitar 30-60 menit, ” Ujar Harjanto sambil menjelaskan biaya terapi sekitar Rp. 200.000 ke atas tergantung penyakit pasien.

Frekuensi pengobatan tergantung jenis penyakit. Untuk pasien serius yang terserang saraf terjepit harus rutin seminggu dua atau sekali datang selama dua sampai lima bulan tergantung penyakitnya. Ada juga yang sekadar penyakit ringan hanya sekali terapi saja untuk menghilangkan pegal-pegal.

Haji Sucipta yang memakai terapi serupa dengan Harjanto menerapkan tarif yang lumayan murah. Tanpa mematok harga khusus ia melayani konsultasi dan terapi keluhan saraf terjepit dengan biaya seikhlasnya. ” Saya hanya melakukan pijatan atau urut ringan di bagian saraf terjepit pasien dengan tangan atau alat pemijat dari tanduk. Saya urut pelen-pelan sampai saya merasakan sarafnya kembali normal,” katanya.

Ia mengakui si pasien tak bisa sekali datang langsung sembuh. Biasanya pasien yang berobat dengan keluhan nyeri, harus berobat sampai 10 kali datang. Sebelum memijat atau mengurut, Sucipta biasa melakukan ritual membaca ayat-ayat Al-Qur’an. ” Untuk membuka bagian saraf yang terjepit sangat halus tidak bisa terlihat kasat mata. Kalau melalui operasi kedokteran memakai alt canggih, terapi pijat saya dengan upaya doa.”

Sumber: HADRIANI.P, KORAN TEMPO 12/2007